Home / Artikel / Sejarah Teknologi Pangan

Sejarah Teknologi Pangan

Penerapan teknologi pangan sederhana telah dimulai sejak masa primitif, di mana masyarakat hidup berpindah-pindah dan menetap pada suatu tempat dalam periode tertentu. Pada saat menetap, mereka membuat rumah. Bertani dan berburu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Hasil panen ada yang disimpan dan untuk keperluan benih. Jika tempat yang ditinggali sudah tidak subur, maka mereka berpindah mencari tempat yang subur dengan membawa simpanan pangan dan benih untuk disemaikan di tempat baru. Begitu seterusnya. Pada akhirnya manusia mulai hidup menetap pada suatu tempat. Mulai menyimpan hasil pertaniannya di lumbung-lumbung seperti padi dan gandum. Tetapi tidak demikian dengan bahan pangan hewani, sayur, dan buah, sangat mudah rusak dan tidak tahan lama terutama pada musim panas. Kemudian akhirnya mereka memanfaatkan panas matahari untuk melakukan pengeringan terhadap bahan pangan terutama daging dan ikan
agar dapat disimpan untuk persediaan makanan saat musim paceklik. Metode pengeringan disebut sebagai salah satu metode pengawetan pangan paling tua (primitif) karena sampai saat ini masih dilakukan, tetapi sekarang ini disertai atau di kombinasi dengan pengolahan pengawetan lainnya seperti penggaraman pada ikan asin, penggulaan pada manisan buah kering, dan lain sebagainya.

Sejarah teknologi pangan modern dimulai ketika Nicolas Appert (1804) mengalengkan bahan pangan, sebuah proses yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Namun ketika itu, Nicolas Appert mengaplikasikannya tidak berdasarkan ilmu pengetahuan terkait pangan. Aplikasi teknologi pangan berdasarkan ilmu pengetahuan dimulai oleh Louis Pasteur pada tahun 1861. Louis Pasteur memberikan penjelasan bahwa sebetulnya pemanasan dapat membunuh mikroba dan penutupan botol secara rapat dapat mencegah masuknya mikroba makanan. Dengan pernyataan tersebut timbulah mekanisme pengawetan makanan dengan istilah pasteurisasi di mana teknik tersebut melibatkan suhu yang lebih rendah dari pada suhu sterilisasi Appert.

Sehingga makanan yang diawetkan dengan pasteurisasi tersebut mempunyai rasa lebih enak dari cara Appert. Kemudian teknik tersebut diaplikasikan untuk mengawetkan makanan yang bersifat asam seperti buah dan asinan. Karena secara alami produk-produk tersebut bersifat asam, yang memiliki daya bunuh terhadap mikroba sehingga tidak lagi memerlukan sterilisasi secara total. Kesimpulan ini tercetus ketika mencoba untuk mencegah kerusakan akibat mikroba pada fasilitas fermentasi anggur setelah melakukan penelitian terhadap anggur yang terinfeksi. Selain itu, Pasteur
juga menemukan proses yang disebut pasteurisasi, yaitu pemanasan susu dan hasil olahannya untuk membunuh mikroba yang ada di dalamnya dengan perubahan sifat dari susu yang minimal.

About admin

Check Also

Cara Mencegah Resiko Hygiene

Peralatan dalam usaha pengolahan makanan terbagi dalam empat bagian besar yaitu: peralatan pemanas, peralatan pengolahan, …