Home / Makanan Indonesia / Sosio Budaya Makan Indonesia

Sosio Budaya Makan Indonesia

Arti pangan tidak terbentuk dengan sendirinya. Proses ini diperoleh melalui pembelajaran secara turun temurun dari orang dewasa keanaknya ataupun dari generasi tua kegenerasi muda dan berlangsung terus sepanjang hayat. Proses sosialisasi ini terus berlangsung selama anggota keluarga tersebut tinggal bersama dengan kelompoknya. Apa yang diterima, ataupun apa yang dianut oleh kelompok tersebut akan tetap mewarnai perilaku makannya. Proses pembelajaran ini menjadikan terbentuknya pola hidangan yang menetap, dan dijadikannya pedoman dalam penyusunan hidangan

Konsep pangan antar berbagai kelompok masyarakat kadang berbeda. Tidak selamanya satu jenis makanan dimaknai dengan makna yang sama. Alasan tabu untuk mengkonsumsi satu jenis hidangan, atapun pemberian nilai terhadap satu jenis hidangan antara kelompok masyarakat, suku berbeda. Sehingga akan ditemukan ikan menjadi tabut untuk ibu menyusui diberbagia kota di Jawa sementar ditempat lain tidak menjadi masalah. Demikian juga akan ditemukan jenis untuk kelompok kaya dan miskin. Juga peristiwa tertentu yang dikatikan dengan jenis makanan yang kadang mengikat dan mengatur anggota kelompok. Dengan demikian arti pangan tidak terbatas memenuhi rasa lapar, tetapi juga untuk memenuhi rasa senang, ataupun memberikan adanya ikatan tertentu yang berlaku dalam suatu kelompok.

Keterbatasan informasi yang diterima selama proses pembelajaran dan pengaruh dari berbagai faktor-faktor tersebut akan menyebabkan penyediaan hidangan seperti yang diperoleh dari generasi terdahulu. Apa yang disajikan kadang bersifat tradisi, kurang diikuti oleh rasionalisasi mengapa hidangan tersebut diberikan, ataupun disajikan. Misalnya penyediaan hidangan didasarkan pada aspek kebutuhan ataupun aspek kesehatan.

Kebiasaan makan keluarga dengan susunan hidangannya merupakan manifestasi dari kebudayaan keluarga yang disebut life style atau gaya hidup. Hidup merupakan hasil kondensasi dari interaksi antara faktor sosial,buaya dan lingkungan hidup. Dengan demikian terdapat hubungan yang kuat antara susunan hidangan seseorang, keluarga, masyarakat, dan ketiganya saling mempengaruhi. Seberapa besar kekuatan pengaruh faktor sosial, budaya, lingkungan hidup tersebut mewarnai perilaku seseorang didalam mengkonsumsi pangan akan mempengaruhi upaya perubahan pola pangan kearah pola lain. Tentu saja semakin kuat pengaruh budaya tersebut akan semakin sulit untuk diubah, apalagi perubahan pola hidangan tersebut sama sekali berbeda. Untuk itu diperlukan kesadaran yang tinggi dari yang bersangkutan.

Secara lebih rinci dapat disebutkan disini berbagai faktor yang mempengaruhi life style antara lain penghasilan (besarnya, jenisnya, sumbernya); pendidikan (ibu, ayah, ataupun anggota keluarga yang lain); lingkungan hidup (kota, desa, pinggiran); kepercayaan/agama; pengetahuan tentang kesehatan (konsep sehat, sakit, konsep tentang hubungan antara makanan dan kesehatan); pengetahuan gizi (kedalaman, keluasaan); faktor fisiologis (masa tumbuh, remaja, dewasa, tua); suku bangsa dan distribusi pangan (jenis, ragam pangan yang mampu diproduksi dan didistribusikan baik dalam skala keluarga, masyarakat, ataupun antar daerah) dan masih banyak lagi. Faktor tersebut merupakan faktor penentu dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kualitas dan kuantitas makanan keluarga. Dikarenakan adanya variasi sumbangan masing-masing faktor tersebut yang berbeda untuk setiap keluarga maka akan ditemukan ragam life-style yang khas pada setiap keluarga, masyarakat, bangsa.

About admin